Friday, March 8, 2019

HARI-HARI OMONG KOSONG


HARI-HARI OMONG KOSONG
Eko Mariadi alias (item) merupakan wartawan lepas atau pengurus aliansi jurnalis independen. Sebuah organisasi wartawan yang didirkan pada bulan Agustus 1994, setelah Dapartemen Penerangan membredel beberapa majalah. Majalah tersebut adalah majalah tempo, majalah editor, dan tabloit detik. Bersama tiga pekerja lainnya Item alis Eko Mariadi pernah di vonis tiga tahun penjara, karena telah menerbitkan majalah independen tanpa  izin Dapartemen Penerangan “yang saya ingat adalah saya menutup kalimat perkedel buah kedondong jangan main bredel dong” ujarnya.
Bondan Winarno merupakan seorang pembawa acara kuliner di televi, tapi  pada tahun 1997 Bondan merupakan wartawan yang mampu membongkar penipuan tambang emas asal kanada di Kalimantan Timur. Ketika majalah tempo di bredel oleh pemerintah, karena telah memberitakan import kapal perang bekas dari Jerman Bondan menjadi salah satu korbannya. Bondan merupakan seorang penulis Kolom Kiat. Pada saat itu, buku Bondan menjadi buku terlaris.
            Aristides Katoppo merupakan orang yang pernah kehilangan korannya. Pada tahun 1986 Dapartemen Penerangan yang  menutup sinar harapan yang terbit tahun 1961 karena memberitakan bisnis keluarga cendana. Seperti halnya majalah tempo, koran sinar harapan bisa terbit kembali setelah orde baru tumbang.
Pada tahun 1992  di usia 25 tahun Akhmad Kusaeni ditugaskan di kantor berita acara, untuk meliput kegiatan Menteri Penerangan Harmoko yang baru diangkat sebagai ketua umum Golkar. Setiap hari  sabtu dan hari minggu Kusaeni selalu mengikuti Harmoko keliling Indonesia untuk melakukan temu kader. Kusaeni mengambil gambar Harmoko ketika pesawat hampir jatuh, yaitu dengan oksigen yang turun Hamoko tetap tersenyum dan mengangkat dua jarinya. Zaman itu Harmoko menjadi bintang media, setiap hari ada saja media yang meliput kegiatan Menteri Penerangan dan ketua umum partai Golkar.
Sekitar tahun 1983-1997 Harmoko menjadi menteri penerangan, di tangan beliau surat izin penerbitan dibatalkan. Inilah yang menentukan hidup dan matinya media massa pada saat itu. Sekitar 13 media massa di cabut surat izinnya pada periode 14 tahun kepemimpinan Harmoko di Dapartemen Penerangan. Seusai pemilihan umum pada tahun 1992 Soeharto menunjuk Harmoko sebagai orang sipil pertama ketua umum Golkar. Aksi panggungnya yang menarik banyak orang, tentunya pada masa itu pendukungnya mulai meningkat. Dari hasil keliling Indonesia Harmoko meyakinkan Soeharto bahwa rakyat masih membutuhkan presiden RI utuk periode yang ke 7.
Kelompok pembaca, pendengar, pirsawan merupakan kompetisi 1995 tentang adu pengetahuan pertanian, perikanan, pertenakkan atau pembangunan yang terkenal pada era 1990. Harmoko menjadi primadona acara-acara tersebut. Pertengahan 1997 Soeharto tiba-tiba mengakhiri 3 periode kekuasaan Harmoko di  Dapartemen Penerangan. Ia menduduki jabatan sebagai menteri negara urusan khusus, sebuah kementrian baru yang belum diketahui jelas tugasnya. Tak lama kemudian akhir 1997 Soeharto menjadikan bekas pembantunya itu sebagai dewan perwakilan rakyat setara dengan presiden. Tak ada yang menyangka sidang yang patah terjadi pada Harmoko.
Pada akhirnya Harmoko membuat suatu keputusan dan memilih jalannya sendiri. Harmoko menyampaikan aspirasi rakyat bahwa presiden Soeharto harus mundur dari jabatannya. Pada tanggal 21 Mei 1998 presiden Soeharto mengundurkan diri sebagai jabatan Presiden. Harmoko menghilang dari pandangan publik, hingga suatu hari ia miminta wartawan untuk meliput semua aktivitasnya. Menonton wayang merupakan aktivitas rutin yang dilakukan oleh Harmoko saat ini.
Kini Harmoko telah menghabiskan waktu dengan keluarga dekatnya. Istilah hari-hari omong kosong adalah orang yang tidak suka dengan Harmoko. Menurutnya itu bukan suatu masalah,  hal yang terpenting adalah hari-hari komunikasi. Pada tahun 1993 Harmoko berujar “saya tidak akan membredel media massa”, tapi pada kenyataannya ia membredel media massa. Harmoko membredel karena menjalankan perintah, bukan karena setuju.