Saturday, April 13, 2019

Straight News


MILAD RACANA KI NYI  AHMAD DAHLAN UMS KE 36
Jumat, 22 Februari 2019
            Surakarta- UKM Racana UMS mengadakan acara untuk memperingati Milad Racana Ki Nyi Ahmad Dahlan Ke 36. Acara ini berlangsung selama tiga tahapan. Pertama, diadakan pada hari Jumat tanggal 22 Februari 2019 di Hall Fakultas Hukum kampus satu UMS. Kedua, diadakan  pada hari Kamis tanggal 28 Februari 2019 di Griya Mahasiswa yang terletak di kampus satu UMS. Ketiga, diadakan pada hari Sabtu tanggal 9 Maret 2019 di Hall Fakultas Ekonomi Bisnis yang terletak di Kampus dua UMS. Acara dimulai pukul 20.00-23.00 wib. Milad ini diadakan untuk menjaga tali silaturahmi dengan anggota pramuka di seluruh Indonesia.  Selain itu, menambah bekal untuk anggota Racana dalam menjalankan tugas sesuai dengan jabatannya dalam Racana. Acara ini dihadiri oleh seluruh anggota Racana UMS, UKM UMS, Racana Sabahat dari seluruh Indonesia. IAIN Jakarta dan Universitas Muhammadiyah Tanggerang turut andil dalam memeriahkan Milad Racana Ki Nyi Ahmad Dahlan UMS ke 36. Kegiatan ini merupakan sebuah proses Racana untuk membentuk kepanitiaan seperti ketua, sekertaris, bendahara, seksi acara, seksi dokumentasi, dan kepanitiaan yang lain. Setiap tahun Racana UMS selalu mengadakan acara Milad. Serangkaian acara Milad Racana Ki Nyai Ahmad Dahlan ke 36 adalah ulang janji, edit video, dan inagurasi pada malam puncaknya.
Menurut Nadia Sexar Pramudita sebagai sekertaris di Racana Universitas Muhammadiyah Surakarta bahwa, kegiatan kepramukaan mengajarkan kepada dirinya tentang banyak hal. Salah satunya adalah sikap disiplin, bagaimana kita menaati sebuah aturan dengan baik. Pramuka juga dapat mengajarkan kepada kita untuk bertanggung jawab dan saling membantu satu sama lain. Banyak suka dan duka yang telah dilewati selama mengikuti kegiatan pramuka. “Pramuka sangat menyenangkan !” ujar Nadia Sexar Pramudita.

Wawancara





Bledug kuwu merupakan salah satu objek wisata yang terletak di Desa Kuwu, Kecamatan Kradenan, Kabupaten Grobogan, Provinsi Jawa Tengah. Bledug Kuwu ini menjadi  salah satu objek wisata yang paling banyak dikunjungi di daerah Grobogan. Bledug Kuwu terkenal dengan semburan lumpur yang mengandung gas berasal dari tanah. Semburan-semburan lumpur yang mengandung garam berlangsung sekitar 2-3 menit, menjadi daya tarik tersendiri oleh pengunjung di luar daerah. Kata Bledug Kuwu berasal dari bahasa Jawa yang berarti Bledug “ledakan” dan Kuwu “berhamburan”.
Bledug Kuwu menjadi tempat wisata yang banyak pengunjungnya baik pada hari libur maupun pada hari biasa. Bledug Kuwu memiliki sebuah panorama yang sangat indah dan memberikan sensasi yang berbeda bagi para pengunjung. Tempat wisata ini sangat tepat untuk dikunjungi ketika liburan tiba, untuk dapat memasuki objek wisata Bledug Kuwu cukup membayar karcis seharga Rp.5.000,-. Di dalam objek wisata tersebut ada fasilitas yang dapat dimanfaatkan oleh pengunjung diantaranya: gazebo, WC, musala, dan kantin. Selain itu kita juga dapat menikmati panorama dengan minum degan bersama keluarga atau teman-teman dan kita dapat mengambil gambar dari jarak yang dekat.
Bledug Kuwu memiliki daya tarik tersendiri yang berbeda dengan tempat wisata lainnya. Di tempat wisata ini para pengunjung dapat menyaksikan semburan lumpur  secara langsung, ini merupakan salah satu fenomena alam yang jarang ditemukan di tempat lain. Selain itu, penduduk di daerah Bledug Kuwu sangat ramah dan bersahaja. Ketika menyemburkan gas maka akan terdengar suara yang sangat keras. Bunyinya seperti ledakan bom, dari gelembung lumpur tersebut bersamaan dengan keluarnya asap, air garam, gas. Proses ini menyebabkan kawasan Bledug Kuwu menjadi daratan yang dapat menghasilkan garam, garam itu diolah oleh warga setempat.
Berdasarkan hasil wawancara dengan salah satu warga setempat yang bernama Devi Mega Kurnianti Solekhah (21), sejarah terjadinya Bledug Kuwu barawal dari seseorang yang bernama Joko Linglung yang bisa berubah menjadi seekor ular naga. Konon katanya Joko Linglung melakukan perjalanan menuju Medang Kamulan, setelah Joko Linglung mengalahkan Prabu Dewata Cengkar yang sudah berubah menjadi buaya putih di laut Selatan. Di tengah perjalanan (Bledug Kuwu) Joko Linglung beristirahat dan menampakkan diri di daratan, sehingga terbentuk lubang yang dapat menghamburkan lumpur.